Sabtu, 12 November 2016

Gadis di Perbatasan

Sejenak terkenang kembali saat di mana aku berkelana ke sudut kota Kabanjahe sekitar 3 tahun lalu, Pukul 23:28 Wib.
Gadis di Perbatasan, ya.. awalnya aku tak menduga bahwa seseorang itu menegur sapaku dengan bahasanya yang memang sedikit ku mengerti.
Awal itu, aku berangkat dari terminal Kutacane Aceh Tenggara menuju ke Perkampungan yang memang arah tujuanku ke rumah adik ibu ku yang tinggal di sana.
Gadis di Persimpangan
Foto: ilustrasi
Perjalanan dari Kutacane ke Kabanjahe memakan waktu sekitar 5 Jam karena memang jalannya yang mendaki bukit dan melewati banyak kebun jeruk, Apalagi jika cuaca lumayan buruk, memang saat setengah perjalanan cuaca berubah menjadi sangat tidak bersahabat. Sehingga membuat ku ketiduran di dalam mobil antar provinsi yang ku tumpangi.

Dan kembali aku terbangun saat mobil yang ku tumpangi berhenti untuk menaikkan penumpang lainnya.
Wah, Seorang gadis.. Pikirku, Kenapa masih ada seorang gadis hampir tengah malam tapi masih menunggu mobil di perbatasan ?. Suasana mobil yang penuh dan pengap pun membuat nya berjalan ke kursi belakang tepat ke arahku. dia duduk di sebelahku tanpa bicara sepatah katapun. raut wajah yang ku lihat samar-samar sepertinya dia memang kelelahan yang mungkin baru saja menjalani beberapa aktivitas yang tidak ku ketahui.
Aku menegurnya pertama kali untuk membuat suasana yang dingin menjadi hangat. ku lepaskan Earphone yang memutar Musik "Sleeping With Sirens" band melodic metal favoritku yang telah menempel di telingaku sekitar 2 jam dari awal perjalanan dan ku simpan di dalam kantong jaketku.

Namanya Gea, dia Tinggal di Kecamatan Naman Teran tepatnya di Lau Baleng.
Dia Beragama Katholik Nasrani Berumur 20 Tahun dan baru saja pulang dari rumah sepupunya yang memang agak jauh dari kota.

Sekilas aku berpikir, Gadis ini berani sekali jam segini berani pergi dan menunggu angkutan umum di perbatasan yang jika pembaca lihat mungkin pembaca tidak bakalan percaya di tempat se-sepi itu ada gadis yang menunggu mobil angkutan umum.

Aku bertanya padanya, kamu pernah mengalami hal-hal yang mengerikan buat kamu di saat-saat seperti tadi ?.
Dia menjawab, Pernah.. dia juga pernah mengalami kekerasan yang umum di lakukan oleh lelaki terhadap wanita.
Tidak heran pikirku, karena banyak orang bilang kehidupan di Tanah Karo Tergolong Kasar dan Keras.
Tapi Sebenarnya Mereka sangat Baik dan Setia Kawan Juga menghormati golongan yang bukan dari golongang mereka.
Ini terbukti saat Gadis di Perbatasan ini Menanyakan Keyakinan ku, dan Akhirnya dia mengetahui bahwa aku seorang Muslim. dia bercanda padaku sambil mengatakan bahwa aku pasti sering meninggalkan ibadah yang seharusnya wajib dalam keyakinanku untuk di jalani. saat itu aku merasa malu. tapi ya sudahlah, aku berani menjujurkan diri.

Entah sampai mana cerita demi cerita yang kami utarakan di perjalanan dalam angkutan umum yang gelap samar-samar, pengap, di tengah gerimis dengan posisi aku dan Gea duduk di kursi paling belakang.
Saat itu Gea menyela, Bahwa dia juga pernah duduk bersama seorang lelaki sama persis di saat seperti ini.

Lalu dia mengatakan bahwa dia selalu mendapatkan pelecehan.
Hanya aku yang menanggapi dia secara biasa-biasa saja.
Aku tergerak untuk  bertanya lebih lanjut, aku bertanya. kenapa kamu mau duduk di samping ku jika kamu memang sudah pernah mengalami hal mengerikan seperti itu.
Dia hanya menjawab bahwa dia tidak punya pilihan lain, depan terdesak-desak, tengah penuh dan di atas mobil juga gak mungkin sambil dia tertawa kecil, jadi ya terpaksa di belakang.

Kulihat Jam di Handphone ku menunjukkan pukul 01:37 Pagi WIB.. Hujan belum juga reda. dan sempat terhenti karena ada nya longsor kecil di perjalanan kami yang memaksa kami untuk berjalan dengan rasa was-was di selimuti sedikit ketakutan yang tak bisa di bayangkan.
Gea kembali bercerita dan bertanya apa tujuan ku ke kabanjahe, aku mengatakan bahwa aku ada keperluan di rumah adik ibuku sembari berlibur melepaskan penat dari kampungku.
Dia Tersenyum dan mengatakan bahwa aku harus bersyukur pada Allah bahwa aku masih dapat menikmati yang namanya Holiday.
Lalu aku menawarkannya untuk singgah di rumah bunda ku sambil aku meminta bantuannya untuk menjadi pemandu wisata pribadi ku.
Dia mengatakan bahwa dia tidak punya waktu untuk menjalani aktivitas liburan karena tuntutan kerja yang memaksanya menguras keringat demi pecahan rupiah.
Gadis di Perbatasan
Foto: Teuku Raja

Aku bertanya, memang kamu bekerja apa ?.
Jawabannya membuat ku tersentak dalam hati dan seakan tidak percaya dengan apa yang aku dengar.
Dia mengatakan bekerja sebagai kuli jeruk. Sampai tengah malam ? tanyaku lagi.
iya, di kota ini. para anak gadis dan ibu-ibu atau Nande Nande kebanyakan bekerja sebagai kuli jeruk seperti itu, bahkan ada yang pulang sampai pagi demi mendapatkan lebih banyak uang dari mandor.

Lalu Gea menyindir pikiranku, dengan mengatakan bahwa aku berpikir dia gadis pekerja malam yang senantiasa melayani lelaki mewah.
Aku berkata jujur bahwa aku beberapa saat tadi memang sempat berpikir seperti itu. dan akhirnya aku meminta maaf.
Dia berkata sambil tertawa kecil, "Sudahlah enggak masalah kok bang, Semuanya pasti berpikiran begitu bang. bukan abang aja", yang di akhiri dengan sebuah tetesan yang jatuh menghiasi pipi kirinya.
Aku terkejut, seakan dia mampu membaca pikiranku.

Oohh tuhaaan, jahatnya fikirku. Aku meminta maaf sekali lagi dan menawarkan dia untuk duduk di samping jendela agar tidak mabuk jalan.
Sejenak ku tatap matanya dengan segenap rasa bersalah.
Aku bertanya, studi nya bagaimana. dan kenapa dia harus mesti bekerja setiap hari seperti itu.
Dia menjawab, dia tidak punya pilihan lain. Studi nya terputus hanya sebatas SMA kelas 2 saja karena keterbatasan biaya, dan merawat adik lelakinya yang masih kecil berumur 5 tahun. sedangkan Ibu dan Bapaknya Telah meninggal dunia karena terkena awan panas Gunung Sinabung 2010 Lalu saat mereka bekerja memetik jeruk di lembah sinabung. sedangkan saudaranya yang lain seakan tidak perduli dengan nasib mereka.

Aku sedih mendengar ceritanya, dan merangkulnya dengan pelukan kecil yang mungkin dapat membunuh kesedihannya.
Aku menghapus airmata di pipinya dengan melepas pelukan kecil ku agar dia merasa nyaman kembali.
Pukul 3:20 WIB ..
Aku dan Gea sudah sampai di kota Kabanjahe, dan aku menanyakan nomor handphonenya.
Sayang dia tidak memiliki Handphone.
Aku mencatat Nomor Handphone ku pada sebuah lembar kertas dan memberi padanya agar komunikasi kami tidak terputus. dan menawarkan bahwa ongkos angkot nya biar tanggunganku. awalnya dia menolak, setelah aku memaksa. akhirnya dia mengatakan "Yaudah, Terserah abang aja. Tapi Makasi banyak bang, nanti aku pinjam Hp temen buat SMS abang ya". dan aku segera membayar ongkosnya kepada sang supir  yang lumayan besar bobot tubuhnya, Gea mengucapkan Terima Kasih padaku, sembari menuju komplek perumahannya yang hanya beberapa meter dari berhentinya mobil.

Aku meng-iyakan dan kembali menaiki mobil yang mengantarkanku ke terminal Simpang Galon Loudah yang memang tempat tujuanku itu tidaklah jauh lagi.
Akhirnya, aku sampai ke tempat tujuan dan pulang ke rumah bunda ku.
Beberapa hari kemudian, ada 1 pesan masuk di handphoneku, ternyata dari Gea. Gea mengajakku kerumahnya.

Pokoknya, Liburanku di kabanjahe tidak membosankan karena aku dan Gea banyak berkomunikasi dan aku pernah ikut Gea untuk menjadi Kuli Jeruk beberapa hari yang bayarannya hanya 50 ribu sehari, hasil dari kerja keras kami akhirnya kami kumpulkan dan kubelikan Gea sebuah Handphone kecil, dan Alhamdulilah komunikasi ku dengan Gea Masih utuh baik-baik saja sampai sekarang.

Dari sini, aku dapat pelajaran bahwa wanita itu benar-benar hebat.
mereka dapat melakukan apapun dengan sungguh-sungguh.
dan Gea juga yang mengajarkan ku Arti Bersyukur dan Mempertahankan Apa yang telah ada.

Terima Kasih Gea.
Kalo kamu membaca ini. Ini aku Raja.
Teman kamu seperjalanan dulu..
Terima kasih Banyak Kamu sudah menjadi teman terbaikku..

Based on The My True Story..

Karina Gea Purba Tarigan
Memory ku denganmu adalah Gadis di Perbatasan ..
Yang Mengalahkan Sejuta Tantangan..
Semoga kamu sehat-sehat aja di sana.

Related Posts

Gadis di Perbatasan
4/ 5
Oleh

Berkomentarlah Dengan Bijak dan Cegah Otak Anda Untuk Berpikir Melakukan Spam.
Jika tidak Senang, Silahkan Tutup Blog ini dan Pergi Lakukan Hal yang Berguna.